Prof. Dr. Slamet Iman Santoso

Prof. Dr. R Slamet Iman Santoso

Cover bukunya hilang

Prof SIS

Tapi ketemu di web orang

Dari Warna – Warni Pengalaman Hidup R. Slamet Iman. Boen Oemarjati Hal 88 – 91

Penggemblengan  Co-Assistent

Selama pendidikan sebagai co-assistent, kami banyak sekali mendapat pengalaman praktis, dan terus menerus dikontrol. Rata -rata 3,4 atau 5 co-assistent dikontrol oleh satu asisten dokter. Sebagai co-assistent di Bagian Ilmu Bedah, pada suatu hari saya ditugaskan saban lima belas menit menghitung nadi seorang contusio cerebri akibat jatuh dari pohon (contusio cerebri adalah kerusakan dan perdarahan otak). Tugas saya itu mengikat saya pada tempat tidur sisakit. Saya mulai pk. 10 pagi. Kira – kira pukul 2 siang saya siap – siap untuk pulang. Tetapi tepat pada jam tersebut Profesor LESK masuk ruangan, memeriksa keadaan pasien dan memberikan perintah terus menghitung. Kemudian beliau pulang. Terpaksa saya terus dibangsal perawatan. Kira – kira pukul lima sore Profesor LESK datang lagi, dan saya diwajibkan menghitung nadi saban 30 menit. Baru pada pukul 10 malam sang Profesor datang lagi dan membebaskan saya untuk pulang.

Sepanjang hari saya hanya minum saja , belum makan apapun. Namun pengalaman itu sangat mempengaruhi saya. Kalau seorang Belanda-Jerman memperhatikan seorang Inlander sedemikian tekun, saya merasa malu, kalau saya tidak bisa mengimbangi.

Pada lain waktu, masih sebagai co-assistent di bagian bedah, pada pukul enam sore kami bertiga dikirim ke jalan Tangerang. Ada bus tabrakan dengan kereta api. Kami bekerja disitu sampai kira -kira pukul sembilan malam, mengeluarkan orang-orang dari bus yang ringsek. Bahkan ada beberapa penumpang yang mati, dengan lampu senter kami menerangi reruntuhan untuk terakhir kali. Tiba – tiba kami lihat ada bungkusan putih yang bergerak – gerak…..Setelah kami berhasil mengeluarkan bungkusan tadi, hati kami kaget bercampur sedih, hampir menangis….ternyata seorang bayi, sehat wal afiat, tidur nyenyak, sedangkan ….ibunya sudah mati.

Kira – kira pukul 10 malam kita sudah di  CBZ (Centrale Burgelijke Ziekenhuis) lagi, dan terus bekerja di kamar bedah sampai kira – kira pukul dua pagi dan baru pulang. Di antara pasien yang luka, ada seorang dengan benjolan berdarah di kepala. Dengan sangat hati -hati kepalanya dicukur dan kami sangka ada luka dalam. Barangkali tulang rengat. Pendek kata kami sangat serius dan hati – hati. Pada waktu luka dibuka ….keluarlah darah, tercampur dengan …..nasi putih, kira – kira sebanyak satu sendok makan. Setelah luka dibersihkan dan dicari rengatan tulang, terbukti seluruhnya utuh. Ternyata luka hanya mengenai kulit saja, dalam satu minggu sembuh tanpa gangguan. –jika ada keretakan tulang atau bahkan tulang tengkorak pecah maka otak bisa meleleh keluar mirip nasi atau tahu, tapi pada tulisan ini mungkin nasi betulan. red.

Dalam rangka pekerjaan sehari – harinya, kami co-assistent  lah yang harus melakukan narcose (pembiusan.red) dengan aether. Saya hitung, saya telah melakukan kira-kira empat puluh lali narcose. Tentunya untuk operasi yang ringan – ringan saja. Dalam masa co-assistent dikamar bedah, semua harus melakukan dua kali operasi sectio alta, dan dua kali operasi hernia inguinalis . Kelak di Bagian Penyakit mata, harus dua kali operasi entropion. Semua pekerjaan dokter sehari hari hanya dilakukan oleh co-assistent, dibawah pengawasan seorang asisten. Misalnya menyuntik, catherisasi, memasang pembalut, membersihkan alat – alat kedokteran, menggulung pembalut untuk disterilisasi dan sebagainya. Pendek kata kami dilatih untuk bisa bekerja di hutan pedalaman. Dilihat dari pekerjaan sehari – harinya, sering seorang Indisch art disebut dengan istilah Rimbu Arts. Tetapi dalam kenyataannya, secara teknis dan dalam hal pemikiran, kami sudah sama dengan pendidikan universitas, cuma perbedaan juridisch saja.

Oleh karena pendidikan kami tidak pernah terlepas dari pengawasan para asisten, ataupun guru-guru yang lebih senior maka kami menjadi manusia dengan watak yang mantap. Misalnya sikap Profesor LESK yang mengontrol pekerjaan saya. Percakapan antara co-assistent dan pasien selalu diawasi. Pernah seorang teman saya menyapa pasien dengan kata ” lu “, Langsung dia dipanggil dan dibawah empat mata langsung di koreksi : Kalau sekali lagi mengunakan kata ” lu ” akan di skor sekian hari. !

Pada kami ditanamkan pengertian untuk menghormati pasien, Sebab kami hanya bisa belajar kedokteran jika ada pasien. Jadi, kami harus berterima kasih pada mereka. Dalam menggunakan bahasa pun selalu diawasi dan berhati – hati. : Jangan memberikan keterangan yang bisa menimbulkan rasa takut, putus asa. Tetapi, jangan memberikan harapan yang berlebihan. Semua keterangan harus jelas dan pas. Sering kami diwajibkan menunggui pasien yang sedang menghadapi ajalnya, dan dikelilingi sanak saudaranya :Kalau saudara tidak bisa menyelamatkan penderita, maka saudara harus meringankan penderitaan keluarga yang ditinggalkan–itulah yang selalu di ingatkan. Soal ketertiban menulis resep, merahasiakan isi resep, dan lain – lain soal rahasia kedokteran, selalu dijelaskan kasus per kasus. Jadi, kami mendapatkan pendidikan Etika Kedokteran sambil bekerja, sambil melaksanakan tugas kedokteran. Tidak ada mata pelajaran Etika Kedokteran, melainkan tindakannya lah yang dibina terus menerus. Hanya tindakan terus meneruslah yang bisa menjadikan manusia memiliki watak; bukan kuliah, bukan pidato, bukan teori atau himbauan.

(Co- Assistent atau  ko asisten atau ko ass saat ini adalah masa sekitar 2 tahun setelah menjadi sarjana kedokteran dan masuk dalam pendidikan profesi dokter.)

Aneh tapi nyata

Pada tahun 1929, saya pergi ke Sibolga untuk berlibur pada ibu bibi saya, yang menjadi isteri pegawai kantor pos disana. Dari Tanjung Priok, naik kapal laut digeladak kapal. Kapal tersebut mampir ke Kroe-e (Bengkulu) dan setelah dua hari sampai di Teluk Bayur Padang. Dari padang bersama dengan beberapa kenalan dari perahu, naik mobil taksi ke Bukit Tinggi. Bermalam di sebuah hotel dengan tarif Fl 5,- sehari.

Pada keesokan harinya , saat kami hendak membayar, tiba – tiba saya diajak ke kamar Direktur Hotel. Disana pembayaran saya dikembalikan Fl 2,50. Alasannya, mereka yakin bahwa saya adalah keturunan Alibasah Sentot Prawirodirejo ! Soal itu memang ada benarnya, tapi saya heran, kok mereka tahu. Padahal selain keyakinan saja, mereka tidak bisa memberikan keterangan apapun (Sentot adalah panglima Pangeran Diponegoro, yang oleh Belanda pernah diasingkan di Padang).