Koentjaraningrat

Corat - coret Koentjaraningrat

Prof. Dr. Koentjaraningrat

Corat – coret Koentjaraningrat hal 70 -71
Asosiasi Antropologi Indonesia Frieda Dharmaperwira – Amran
Setiap minggu setelah menaruh buku – buku dan map nya diatas meja pengajar, Koen biasanya membuka acara perkuliahan dengan mengatakan , ” Hari ini ada tes kecil…” Tradisi ini tidak pernah ditinggalnya sekalipun. Kartini Sjahrir ingat bahwa pada suatu saat, bertepatan dengan waktu kuliahnya diberikan, Koen berulang tahun. Saat itu mahasiswa dari berbagai angkatan bersepakatan memberikan surprise bagi Koen. Ngesti Sugarda-Josodipuro mengatur acara ulang tahun itu. Di ruang kuliah ditaruh kue ulang tahun diatas meja pengajar dan para mahasiswa duduk dengan mais menanti Koen datang. Asistennya pun sudah datang lebih dahulu sehingga kemudian Koen datang sendirian menuju kelas. Ketika melihat kelas yang luarbiasa penuhnya dan kue diatas meja, Koen tertegun dan bingung. Para mahasiswa antropologi kemudian ganti menjadi bingung karena Koen bertanya, “Apakah ini kelas saya? Maaf, saya rupaya datang ke kelas yang salah!” Mahasiswa yang duduk paling depan berloncatan keluar kelas sambil mengejar beliau sambil berteriak, “Pak Koen, Pak Koen ini kelas bapak. Kita mau mengucapkan selamat ulang tahun!” Lalu mereka menggiring Koen kembali ke kelas dengan iringan nyanyian ‘Panjang Umurnya’. Koen tersenyum manis dengan gaya reserved. Lantas, iya mengatakan, “Rupaya ini memang kelas saya. Terima kasih….hari ini kita juga ada tes kecil….” Mahasiswa yang tak ada urusan dengan kuliah ‘Manusia dan Kebuyaan di Asia Tenggara’ terbirit – birit keluar ruangan peserta kuliah, termasuk Kartini Sjharir, terpaksa menelan kekecewaan karena ternyata tes kecil tetap diadakan oleh Koen.

Walaupun mahasiswa mengenalnya dengan wajah yang jarang tersenyum, sekali – kali “topeng” Koentjaraningratitu ditinggalkannya. Ini terjadi ketika dalam mata kuliah ‘Etnografi Afrika’, seorang mahasiswa angkata 1967 berhasil menjawab nama ibukota negara Volta Hulu (kini Burkina Faso) yaitu Ougadougou, tetapi lidahnya tidak mau diajak bekerjasama menyebutkan nama itu. Mahasiswa lain menahan geli, takut tertawa keras. Namun rupanya Koen sendiri ikut pula mengangkat buku menutupi muka untuk menahan geli. Seluruh kelas lantas meledak dalam tawa dan Koen kemudian menuliskan pengucapan kata itu yang benar di papan tulis ‘wagadugu’. Kelas pun bertambah ramai.