Gubernur Suryo

Gubernur Suryo

Pak Suryo atau lengkapnya Raden Mas Tumenggung Suryo keturunan pegawai pamongpraja. Ayah beliau, yakni Raden Mas Wiryosumarto, terakhir menjabat Wedana Punung Pacitan Jawa Timur. Kakek beliau dari ayah yakni Raden Mas Wiryosumarto adalah adik Raden Ronggo Kusnodiningrat, Bupati Madiun terkenal pada zaman Hindia Belanda. Ibu beliau seorang keturunan Raden Ronggo Prawirodirdjo yang menurunkan pula Raden Basah Sentot Prawirodiedjo, senopati atau panglima perang Pangeran Diponegoro (1825 – 1830).

Gubernur Suryo oleh Dra. Sri Sutjiatiningsih Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional 1982/1983 Hal 6, 51, 68, 160 – 164

Pak Suryo lahir pada hari Selasa Kliwon.Orang – orang Jawa menamakan hari ini “ Dina Hanggara Kasih” . Hari Selasa Kliwon atau Dina Hanggara Kasih juga sangan dimuliakan oleh orang – orang suku Jawa sebagai hari yang mempunyai arti dan kedudukan khusus. Menurut kepercayaan orang – orang Jawa, anak – anak yang lahir pada Hari Selasa Kliwon atau Dina Hanggara Kasih mempunyai hal – hal yang istimewa.

Demikian juga menurut keterangan adik pak Suryo yang bernama Raden Mas Sutaji, ibunda pak Suryo sering berkata bahwa orang yang lahir pada Selasa Kliwon atau Dina Hanggara Kasih mempunyai ciri apa yang disebut “ Julung Caplok”, yang mengandung makna bahwa orang itu akan mengalami saat yang gilang gemilang di dalam hidupnya , akan tetapi pada suatu saat akan menghadapi bahaya besar. Memang pak Suryo telah mencapai pangkat yang tinggi sebagai Gubernur yang menghadapi hari – hari yang amat berat dan penuh bahaya pada saat – saat pertempuran yang seru di Surabaya dan memang pak Suryo dibunuh oleh gerombolan PKI. Akan tetapi apakah hal ini sudah merupakan ramalan nasib yang tepat atau hanya kebetulan saja. Dialami pak Suryo. Allhu a’lam bissawab !

Raden Mas Tumenggung Aryo Suryo atau pak Suryo bersaudara 10 (sepuluh) orang dan beliau adalah anak yang nomor dua. Untuk jelasnya, baiklah kita tuliskan anak – anak yang lahir dari perkawinan antara Raden Mas Wiryosumarto dan Raden Ayu Kustiah (1982 red) :

    1. Raden Mas Singgih Wiryosugondo (sudah wafat, janda beliau sekarang  bertempat tinggal di Jl. Kalimantan N0 2 Madiun)
    2. Raden Mas Tumenggung Aryo Suryo (beliau dan isteri sudah wafat)
    3. Raden Mas Sarjuno (beliau juga dibunuh secara kejam oleh PKI, janda beliau juga sudah wafat).
    4. Raden Ajeng Kustinah (yang kemudian menjadi Raden Ayu Sayid. Sekarang beliau bertempat tinggal di Jl. Krapas Krampung 220 Surabaya).
    5. Raden Ajeng Sumarti (yang kemudian menjadi Raden Ayu Dr. Dirjosugondo. Sekarang sudah janda dan bertempat tinggal di Jl. Karanganyar I/1 Semarang).
    6. Raden Ajeng Suryati (yang kemudian menjadi Raden Ayu Asparin, tinggal di Jl. Kecapi 2 Malang).
    7. Raden Ayu Suselan (yang kemudian menjadi Raden Ayu Darsono, tinggal di Jl. Irian Barat 14 Madiun).
    8. Raden Mas Sutaji, beliau terakhir menjabat sebagai Direktur Sekolah Pertanian Menengah Atas Negeri (S.P.M.A.N) Malang. Sekarang tinggal di Bareng Tengah V/820 Malang.
    9. Raden Ajeng Kustijah Siti Aminah (yang kemudian menjadi Raden Ayu Slamet Sudarsono. Tinggal di Bareng VI/862 Malang).
    10. Raden Ajeng Kustiah (yang kemudian menjadi Raden Ayu Sudarsono. Beliau sudah wafat . Dudanya tinggal di jl. Tebet Timur I/11 Jakarta.

Pak Suryo dibunuh oleh gerombolan PKI

Sepulang dari Sumatera, Pak Suryo tetap menjadi Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung. Beliau tetap bertempat tinggal di Yogyakarta. Kemudian Ketika Ketua Dewan Pertimbangan Agung R.A Achmad Wiranatakusumah sakit, Pak Suryo yang mengantikan sebagi ketua DPA. Dalam masa sebagai Ketua DPA inilah kemudian meletuslah pemberontakan PKI di Madiun. Dalam peristiwa itulah salah seorang adik pak Suryo , yakni Rade Mas Sarjuno yang menjabat Wedana Sepanjang termasuk salah seorang yang dibunuh PKI.

Pada hari tanggal 10 Nopember 1948 Pak Suryo masih ada di ibukota Republik Indonesia. Setelah menghadiri acara peringatan 10 Nopember di Yogyakara, Pak Suryo bermaksud pulang ke Madiun untuk menghadiri empat puluh hari wafat adik beliau yang dibunuh PKI. Rekan – rekan dan teman – teman pak Suryo, antara lain Bung Hatta sendiri telah memperingatkan agar perjalanan beliau itu ditunda saja. Peringatan tersebut diberikan karena sungguhpun pemberontakan itu telah ditumpas, namun keamanan di daerah Madiun dan sekitarnya belum sepenuhnya terjamin. Akan tetapi pak Suryo tetap bersikeras untuk pulang. Bagaimanapun uga beliau ingin mengahdiri selamatan 40 hari wafatnya adik beliau. Kemudian Bung Hatta menyarankan agar pak Suryo membawa pengawal.

Rupanya memang sedang hari naas bagi pak Suryo ! Baru saja sampai di luar kota mobil beliau mengalami hambatan secara berturut – turut. Mula – mula ban nya pecah. Kemudian mobil itu kehabisan bensin, sehingga harus kembali sampai dua kali. Dengan adanya halangan yang berturut – turut itu, rekan – rekan dan teman – teman beliau antara lain Bapak Sutarjo Kartohadikusumo menyarankan agar pak Suryo menunda saja perjalanan beliau. Peristiwa – peristiwa seperti itu terutama bagi orang – orang suku Jawa merupakan pertanda tidak baik. Namun pak Suryo tetap juga ingin meneruskan perjalanan beliau.

Pada waktu sampai di kota Solo, hari sudah sudah hampir malam. Seorang rekan beliau pak Diro yang waktu itu menjabat sebagai Residen Solo menahan pak Suryo agar bermalam saja di Solo. Kali ini Pak Suryo menurut dan beliau bermalam di kediaman pak Diro. Mobil beliau kemudian diserahan kepada Kepala Urusan Kendaraan untuk diperbaiki.

Malam itu pak Diro bercakap – cakap dan banyak menerima pelajaran dari pengalaman pak Suryo sebagai seseorang yang pernah memegang tampuk pemerintahan di berbagai daerah. Keesokan harinya pagi – pagi sekali pak Suryo sudah berangkat menuju Madiun.. walaupun pak Diro berusaha menahan beliau.

Setibanya di Gendingan sekali lagi pak Suryo diperingatkan untuk tidak melanjutkan perjalanan beliau. Akan tetapi beliau tetap bersikeras meneruskan perjalanan beliau. Setibanya di Desa Bogo Kedunggalar, Ngawi mobil pak Suryo berpapasan dengan sisa – sisa gerombolan PKI yang dipimpin oleh Maladi Yusuf. Pada saat itu juga dari arah Madiun lewat mobil yang ditumpangi oleh Komisaris Besar Polisi M. Duryat dan Komisaris Polisi Suroko. Beliau – beliau ini ke Yogyakarta untuk memenuhi panggilan kepala Kepolisian Republik Indonesia. Baik mobil yang ditumpangi pak Suryo maupun mobil yang ditumpangi oleh Komisaris Besar Polisi M. Duryat dan Komisaris Polisi Suroko dihentikan oleh sisa- sisa gerombolan PKI. Itu. Mereka disuruh turun dan kemudian dibawa ke hutan Sonde. Kemudian ternyata bahwa beliau – beliau itu semuanya dibunuh secara kejam oleh gerombolan sisa – sisa PKI dari Madiun.

Empat hari kemudian jenazah pak Suryo diketemukan oleh penduduk di Kali Kakah Dukuh Ngandu, Desa Bangunrejo Lor Kecamatan Kedunggalar Kabupaten Ngawi. Hal ini segera dilaporkan ke Ngawi dan diteruskan ke Madiun. Pada waktu itu yang menjabat sebagai Bupati Madiun ialah pak Kusnendar kakan misan (sepupu sekali) pak Suryo, Putera R. Rangga Kusnodiningrat. Beliau inilah yang menyebarkan berita wafatnta pak Suryo kepada keluarga beliau yang sedang berkumpul di Madiun. Jenazah pak Suryo segera dibawa ke Madiun dan kemudian di makamkan di Sawahan, desa Kepalorejo , Magetan. Jadi pak Suryo dimakamkan di sebuah pemakaman keluarga dari pihak Bu Suryo. Dari luka – luka yang ada ditubuh beliau dapatlah dipastikan bahwa beliau dibunuh secara kejam . Kepala beliau terpisah dari badan beliau.

Tentang wafatnya pak Suryo ini , Suripno salah seorang tokoh PKI pada waktu itu dipenjara Solo pernah mengadakan pengakuan sebagai berikut : “Mengenai wafatnya pak Suryo dapat dikemukanan disini ialah pada waktu beliau tertangkap, Kami menangkap mereka berhubung kami hendak berbicara dengan mereka dan menanyakan tentang berita -berita politik yang telah berminggu – minggu lamanya tidak pernah kami dengar . Kami perintahkan kepada kawan – kawan agar jangan diganggu . Mereka masih dalam pemeriksaan. Tetapi sayang sekali , sebelum kami dapat berbicara dengan mereka secara baik – baik, tempat kami tiba – tiba diserang, sehingga terjadilah kepanikan dipihak kami. Dalam keadaan panik inilah terjadi pembunuhan di luar pengawasan, bahkan tanpa sepengetahuan kami.”

Mungkin sekali selama dalam tawanan PKI itu pak Suryo menunjukkan sikap beliau yang sejati. Beliau tentunya tidak mau digertak dan mungkin sekali beliau tegas menyatakan dan menunjukkan kesetiannya yang tak tergoyahkan terhadap Republik Indonesia yang di Proklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Karena kesetiannya itulah dan karena beliau terkenal sebagai seorang yang tegas dan konsekuen, maka tidak ada pilhan lain bagi PKI kecuali membunuh beliau. Apalagi setelah orang – orang PKI yang menangkap beliau mengetahui bahwa pak Suryo adalah seorang keturunan bangsawan, seorang feodal , seorang pegawai pamongpraja yang sering dimusuhi oleh orang – orang PKI. Orang yang mengenal watak pak Suryo tentunya tahu bahwa pak Suryo orang yang tak mudah di intimidasi digertak oleh orang – orang PKI untuk mengkhianati kesetiaan beliau terhadap Pemerintah Republik Indonesia.

Siapa pemimpin PKI yang memimpin sisa -sisa gerombolan PKI yang membunuh pak Suryo itu ? Ada sementara orang yang berpendapat bahwa gerombolan yang membunuh pak Suryo berada dibawah pimpinan Amir Syarifudin sendiri. Tetapi ada pula pihak , antara lain pak Hatta dan pak Sungkono (Gubernur Militer pada waktu itu) bahwa gerombolan yang membunuh pak Suryo itu bukan pimpinan Amir Syarifudin. Karena pada waktu itu Amir Syarifudin sudah tertangkap dan dibawa ke Yogya. Jadi lebih tepat gerombolan yang membunuh pak Suryo itu dibawah pimpinan Maladi Yusuf sendiri disamping tokoh PKI lainnya Suripno. Suripno lah yang membuat pengakuan diatas.

Berita meninggalnya pak Suryo itu mengagetkan seluruh rekan – rekan dan kenalan beliau, terutama rekan – rekan yag telah mecoba menahan beliau dan tidak melanjutkan perjalanan. Padahal hambatan – hambatan yang dialami merupakan sasmita atau pertanda menurut kepercayaan Jawa. Terutama pak Diro, seminggu sebelum hari itu beliau mengantar Menteri Penerangan Mohammad Natsir ke Cepu lewat Ngawi dan tidak terjadi apa – apa. MALANG TAK BOLEH DITOLAK, MUJUR TAK BOLEH DIRAIH !

Kalau nasib malang hendak menimpa, betapapun usaha kita, ia tidak dapat dielakkan. Demikian pula jika tak ada nasib mujur betapapun kita berikhtiar tak juga akan beruntung. Demikian pula halnya dengan pak Suryo, memang sudah demikian takdirnya, YANG SEGANTANG TAK JADI SECUPAK. Jika ajal telah sampai, tiada dapat disambung lagi.

Karier Pamongpraja Pak Suryo :

  1. 1918 : Gediplomereed Assistent Inlandsch Bestuursambtenaar
  2. 1920 : Mantri Veld Politie
  3. 1922 – 1924 Sekolah Polisi (Politie – School)
  4. 1924 : Asisten Wedana Karangrejo Glodok Madiun
  5. 1926 : Asisten Wedana Kota Madiun, Asisten Wedana Jetis Ponorogo, Wedana di Pacitan
  6. 1926 – 1928 : Bestuursschool di Batavia
  7. 1928 – 1933 : Wedana Gedeg Mojokerto
  8. 1933 – 1938 : Wedana Porong Sidoarjo
  9. 1938 – 1942 : Bupati Magetan
  10. 1942 – 1945 : Syucokan Bojonegoro Jawa Timur
  11. 1945 – 1947 : Gubernur Jawa Timur
  12. 1947 – 1948 : Wakil Ketua DPA