Rumah kos di Surabaya

Sekolah politik di gang Peneleh

Tjokroaminoto Guru Para Pendiri Bangsa Halaman 44 – 48
Di rumah Tjokroaminoto di Gang Peneleh VII Surabaya, pemuda Sukarno, Musso, Alimin, Semaoen dan Kartoeoewirjo ditempa. Akhirnya bersimpang jalan dengan sang mentor.

Sukarno hanyalah remaja yang gemetar saat berangkat ke Surabaya meninggalkan kotanya, orang tuanya, kakaknya dan teman – temannya. Ketika kakinya hendak menapak di gerbong kereta uap di Stasiun Mojokerto, air matanya meleleh.

Dia, yang kala itu berumur 15 tahun, dikirim ayahnya , Soekemi Sosrodihardjo, bersekolah di Horgere Burger School. Soekemi menitipkan pada Oemar Said Tjokroaminoto. Orang inilah yang ditulis Sukarno dalam otobiografinya, yang kemudian mengubah seluruh hidupnya.

“Tjokro adalah kawanku di Surabaya sebelum engkau ada,” kata Soekemi. “Kau tau siapa Tjokro?” Saat itu sebagai pemimpin Sarekat Islam, Tjokromanito berpidato di pelbagai kota. ; Saya ingat dia berpidato di kampung kita dan menginap di rumah. Bapak mengobrol dengan dia sampai menjelang subuh,” ujar Sukarno.tjokro

Sebagai Ketua Sarekat Islam Tjokro hanya digaji ala kadarnya. Rumahnya, menurut Sukarno berada ditengah – tengan kampung padat, hanya beberapa puluh meter dari Kali Mas yang membelah Kota Surabaya. “Gang kami namanya Gang VII Peneleh,” Kata Sukarno. Gang itu begitu sempitnya, tak muat dilewati mobil.

Di rumah yang tak seberapa luas itu, Tjokro tinggal bersama isterinya Soeharsikin, dan lima anaknya – Oetari (nenek dari Maia Estianty dariHaryono Sigit (Mantan Rektor Institut Sepuluh Nopember), Oetarjo Anwar (kakek dari Annie Hidayat isteri dari Mohamad S. Hidayat Menteri Perindustrian 2012), Harsono, Islamiyah dan Sujud Ahmad. Mereka sekeluarga tinggal dibagian depan. Sementara bagian belakang rumah di sekat menjadi sepuluh kamar kecil – kecil. Di ruang sempit inilah Sukarno, Alimin, Musso, Soeherman Kartowisastro, Semaoen dan lainya indekos.

Alimin dan Musso yang datang lebih dulu, mendapat kamar dibagian lebih depan. Sukarno tinggal di bilik yang tersisa dibagian paling belakang. Tanpa jendela, tak ada kasur juga bantal. “Begitu gelapnya sehingga siang haripun aku harus menyalakan lampu,” ujar Sukarno.

Di rumah yang pengap dan kampung yang padat inilah Sukarno, Musso, Alimin dan anak – anak yang indekos itu menemukan dunianya. Mereka tak kesulitan mencari rupa – rua bacaan dari: “ujung kiri” hingga “ujung kanan” di Surabaya – sebagai kota besar. Rumah sang ketua Sarekat Islam, orgaisasi terbesar di Nusantara kala itu, tak pernah sepi dari tamu tokoh pergerakan dan agama.

Ketika tamu – tamu ini bertamu dirumah Tjokro, Sukarno mengenang dia duduk bersimpuh dilantai dan menyimak pembicaraan mereka. Terkadang dia juga berbagi tempat tidur dengan para tamu.

Sesekali dia melontarkan pertanyaan : “Berapa banyak yang diambil pemerintah Hindia Belanda dari negeri ini?”. “Vereenigde Oost – Indidche Compagnie (VOC) mencuri 1.800 juta gulden setiap tahun dari tanah ini.” kata Tjokroaminoto. “Lalu apa yang tersisa bagi negeri ini?” Sukarno bertanya kembali. Spontan Alimin menyergah, “Petani kita yang memeras keringat harus menahan lapar hanya dua setengah sen perhari.” Penjajah , menurut Musso menjadikan bangsa di negeri ini bangsa kuli. Alimin inilah, menurut pengakuan Sukarno, yang memperkenalkan buku – buku kiri.

Di Gang Peneleh ini pula Sukarno dan teman – temannya banyak bertemu dengan pembaru Islam, seperti Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Setiap ke Surabaya Ahmad Dahlan acap mampir ke Peneleh atau kampung Arab di daerah Ampel. Ketika itu di Surabaya beberapa pembaru Islam, seperti Fakih Hasyim dan A. Hasan berseberangan pendapat dengan tokoh Nahdatul Ulama, Wahab Chasbullah.

Fakih Hasyim bersama Mas Mansyur kemudian mendirikan kelompok diskusi agama Ihyaussunnah. Tjokroaminoto rupaya menaruh simpati kepada kelompok ini. Dibantu Mas Mansyur, Tjokro membuat forum dakah Ta’mirul Ghofillin. Lewat forum ini Tjokro beberapa kali mengundang Ahmad Dahlan berceramah di Peneleh VII.

Diskusi seperti itulah yang menempa pemuda Sukarno, Semaoen, Musso dan Kartosoewirjo. Namun kita sama mafhum Sukarno, Alimin, Musso, Alimin, Semaoen dan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo belakangan berpisah jalan dengan sang mentor, Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Sukarno mendirikan Partai Nasional Indonesia , Musso dan Alimin menjadi pemimpin Partai Komunis Indonesia, sedangkan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, sekretaris Tjokroaminoto malah angkat senjata melawan pemerintah lewat gerakan Darul Islam.

Sepeninggalan Tjokroaminoto pada 1934, rumah di Gang Peneleh itu berulang kali pindah tangan kepemilikan dan sempat hilang jejak. “Kami bahkan baru tahu belakangan, waktu kecil orangtua kami tak pernah mengajak menjenguk rumah itu,’ kata Nuraini M.S. Hidayat salah satu cucu Tjokroaminoto ,”Mungkin mereka mengira rumah itu sudah tidak ada.”

Setelah isterinya meninggal pada 1921, Tjokroaminoto pindah dari Gang Peneleh ke Kampung Plampitan, tak jauh dari rumah pertama. Di Plampitan pun dia hanya bertahan beberapa tahun. Pada 1926, Tjokro sekeluarga boyongan ke Kedung Jati, Grobogan Jawa Tengah. “Raja Jawa Tanpa Mahkota” itu meninggal dan dimakamkan di Yogyakarta.

Rumah di Peneleh ini sempat ditempati Wali Kota Surabaya R Soekotjo. Dari Soekotjo, rumah itu beralih lagi ke Soernajo. Baru pada September 1996, Wali Kota Surabaya menetapkan rumah di Gang Peneleh sebagai bagunan cagar budaya.

Menurut Mariyun, 50 tahun , salah satu warga Gang Peneleh, kondisi di dalam rumah juga tak banyak berubah alias belum tersentuh banyak renovasi. Lantainya dari semen. Bila kita membuka pintu depan, mata bisa langsung melihat pintu belakang dan dapur.

Cerita lain datang dari pemilik Toko Buku Peneleh, yang berada tepat didepan rumah Tjokro. Toko buku ini ada sejak 1915. Menurut S. Azhari, cucu H Abdul Latief Zaen pendiri toko itu, dari penuturan sang kakek Sukarno sering main ke toko tersebut. “Kadang sambil baca – baca juga.” kata Azhari. Barangkali toko buku ini juga turut andil membesarkan Sukarno, Musso dan kawan – kawannya.